Warga Indonesia Lebih Diminati Isu Babi Sempit Dibanding Riset dan Inovasi – KetikKetik

Pendiri Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia Ismail Fahmi mencatat, warga Indonesia lebih tertarik membahas isu ‘babi’ ketimbang Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Itu berdasarkan analisis jaringan sosial (SNA) dari 2018 hingga 2 Mei 2021.

Berdasarkan analisis tersebut, terdapat 34.322 tweet ulang (retweet) tentang ‘babi yang diperas’. Sedangkan untuk Badan Riset dan Inovasi Nasional hanya 5.897.

“Bagi publik, topik terkait riset dan inovasi kurang menarik,” kata Ismail melalui akun Twitternya @ismailfahmi, Senin (3/5).

Padahal, pemerintah telah menggabungkan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pekan lalu. Perpaduan keduanya, yang diberi nama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, dipimpin oleh Nadiem Makarim.

READ  RI meminta ISIS untuk mendesak gencatan senjata di Palestina - KetikKetik

Sedangkan BRIN dipisahkan dan dipimpin oleh Laksana Tri Handoko. Posisi BRIN langsung di bawah presiden.

Penggabungan kementerian dan pelantikan itu terjadi bersamaan dengan ditemukannya dugaan “babi ngorok” di Depok, yang ternyata hoax. Padahal, “ini (persoalan BRIN) sangat penting untuk kemajuan bangsa,” kata Ismail. “Mereka yang lebih tertarik pada ‘babi yang suka diemong’ menunjukkan keterbelakangan dalam berpikir.”

Data SNA menunjukkan ada tiga cluster dalam peta pembahasan BRIN dan ‘babi ngepet’, yakni dari pihak pro dan kontra pemerintah, serta warga. Dalam konteks BRIN, cluster pro-pemerintah lebih kecil dari pada contra.

Dari segi cluster, terbesar adalah dari netizen. Namun, mereka lebih banyak membahas masalah ‘pengepet babi’ daripada BRIN.

READ  Tajir Parah, Mark Zuckerberg Beli 600 Hektar Lebih Banyak di Hawaii - KetikKetik

Ismail menilai, para netizen yang lebih suka membahas isu-isu ringan (obrolan ringan) selama kontroversial. Hal ini menurutnya berbahaya karena perhatian masyarakat akan mudah teralihkan dari hal-hal besar dan esensial bagi masa depan bangsa.

Ia juga menyinggung para akademisi yang kurang tertarik atau berani mengungkapkan pemikirannya secara terbuka, membangun wacana di kalangan akademisi dan publik tentang isu-isu penting di media sosial. Ismail mencurigai peneliti lebih aktif di lingkungan tertutup seperti grup WhatsApp dan webinar.

“Mudah-mudahan ini bukan pertanda ‘matinya keahlian’ di Indonesia. Kalau begitu, rugi seluruh bangsa,” kata Ismail.

Berdasarkan laporan Indeks Inovasi Global (GII), Posisi Indonesia berada di urutan 85 dari 131 negara pada tahun 2020. Peringkat tersebut tidak berubah sejak tahun 2018.

READ  PNS Cek Rekening.. Meski Tanpa Tukin, THR Sudah Mulai Cair

Berdasarkan skor tersebut, skor indeks Indonesia justru mengalami penurunan. Detailnya bisa dilihat di Databoks berikut ini:

Source ketiksuara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *