Home » Rubrik Tetap » Civitas Akademika » Pemilu dan Politik Pencitraan

Pemilu dan Politik Pencitraan

referensi-situs-pemilu-2014

Pemilu dan Politik Pencitraan
Oleh. Mohammad Takdir Ilahi

Sebentar lagi, rakyat Indonesia akan menghadapi hajatan besar dalam rangka Pemilu Legislatif dan Presiden yang akan dilaksanakan pada 9 Juli dan 9 April 2014. Berbagai persiapan telah dilakukan guna menyukseskan Pemilu 2014, terutama masalah keamanan dalam masa kampanye yang banyak menyita perhatian dari aparat kepolisian. Kita semua berharap bahwa penyelenggaran Pemilu 2014 akan berjalan lancar dan aman sesuai dengan rencana serta memperoleh pemimpin ideal menuju Indonesia baru.
Semua rakyat Indonesia memang menginginkan pemimpin baru (new leader) yang diharapkan mampu mewujudkan cita-cita luhur masyarakat ke arah perubahan dan kemajuan yang signifikan. Harapan terhadap pemimpin baru menjadi sebuah keniscayaan demi terbangunnya kepemimpinan ideal yang bisa meneruskan estafet kepemimpinan yang akuntabel dan bertanggung jawab. Apalagi, kalau pemimpin baru itu memiliki visi dan misi yang jelas dan mampu melaksanakan janji politiknya ketika dalam masa kampanye.
Sebelum Pemilu berlangsung, para elite politik mulai mempersiapkan diri menghadapi derasnya suhu politik yang tidak sehat. Sudah menjadi hal yang lazim, ketika proses kampanye berlangsung, partai politik berupaya mengumpulkan massa demi kesuksesan partai yang diusungnya. Bahkan, sebelum kampanye dilaksanakan, partai politik sudah mempromosikan janji-janji politik yang akan disampaikan ketika kampanye berlangsung. Janji-janji politik yang diucapkan biasanya berusaha meyakinkan rakyat dengan memberikan sejuta harapan untuk mensejahterakan semua rakyat Indonesia.

Imaji Iklan Politik
Menjelang Pemilihan Presiden, berbagai persiapan dilakukan para partai politik untuk menampilkan citra pemimpin yang akan diusung untuk menarik simpati dan daya tarik masyarakat. Buktinya, di sudut-sudut jalan, pertokoan, perkantoran, gedung-gedung pemerintahan, dan di tempat strategis lainnya, kita dapat menemukan nuansa kampanye yang dimanifestasikan melalui spanduk dan baleho yang melambangkan partai politik tertentu beserta pemimpin yang diusung. Terdapat ajakan dan rayuan yang mencoba menampilkan segudang harapan bagi rakyat yang memilih partainya.
Ajakan dan rayuan yang ditampilkan melalui spanduk-spanduk merupakan salah satu bentuk iklan politik yang hendak mempromosikan visi dan misi parpolnya, di samping juga mencetuskan harapan-harapan semu yang belum tentu direalisasikan. Iklan politik yang terdapat di jalan-jalan, merupakan bagian dari kampanye parpol untuk memperoleh dukungan luas dari rakyat. Melalui iklan politik, partai politik berharap banyak akan perhatian masyarakat terhadap masa depan dan kejayaan parpolnya. Kampanye melalui imaji iklan memang cukup efektif untuk menarik simpati dan memperkenalkan diri sebagai capres ideal menuju Indonesia baru.
Namun demikian, keberadaan iklan politik harus efektif dan etis. Dalam artian, ketika menyampaikan pesan tidak harus memunculkan reaksi pro dan kontra, sehingga bisa merugikan pihak yang lain. Kita bisa memahami bahwa keberadaam iklan politik harus memperhatikan etika dalam beriklan (berkampanye) dengan tidak menyampaikan pesan-pesan yang merugikan orang lain. Hemat saya, pengiklanan seperti di media massa sangat bertentangan dengan etika periklanan, dan oleh karenanya perlu ada guidance yang menjadi pedoman.
Semakin merebaknya iklan politik akhir-akhir ini, memang bukan hal yang aneh. Bahkan, fenomena tersebut merupakan hal yang wajar, mengingat pertarungan politik pada Pemilu 2014 semakin dekat. Di berbagai daerah, iklan politik yang menampilkan atribut parpol maupun capres-cawapres yang diusung, menghiasi di berbagai sudut jalan. Nuansa kampanye begitu kental dengan menampilkan sosok pemimpin nasional sebagai wahana membangun citra di mata publik.
Berbagai janji politik mulai dirumuskan untuk menarik simpati masyarakat, agar memilih partai politik tertentu sehingga bisa berkibar lebih jauh dalam memperoleh dukungan rakyat. Suara parpol tentu sangat berpengaruh pada tokoh parpol yang diusung dalam Pemilu mendatang, sehingga mau tidak mau perolehan suara harus sesuai dengan target yang dicanangkan.

Politik Pencitraan
Keberadaan iklan politik di berbagai media, tentu memiliki dampak pada citra tokoh pemimpinannya. Inilah yang saya sebut sebagai ”politik pencitraan” atau dalam bahasa yang sederhana berupaya membangun imaji-imaji kosong dalam atribut citra dan tampilan parsial. Politik pencitraan seringkali dijadikan instrumen penting untuk mendokrak elektabilitas dan popularitas seorang figur sehingga dapat dipilih oleh rakyat.
Secara kasat mata, partai politik menampilan foto capres-cawapres dan janji politiknya yang dihiasi untaian kata “Berjuang Untuk Rakyat Banyak”, “Marilah Berpihak Pada Kebenaran”, dan untaian kata yang memikat hati dan simpati pemilihnya. Untaian kata yang terdapat dalam iklan politik memang memberikan daya tarik dan harapan bagi rakyat, namun seringkali tidak sesuai dengan harapan karena hanya berupa janji-jani manis di siang bolong. Foto-foto yang ditampilkan pun seolah memberikan secercah harapan akan tercapainya kesejahteraan rakyat Indonesia.
Secara rasional, kita tahu bahwa foto-foto itu tidak berbeda jauh dengan iklan sampo dan sabun. Mereka hanyalah imaji-imaji yang mengaburkan realitas. Tidak heran, kalau dalam alegori Goa-nya yang terkenal, Platon mengatakan, bahwa imaji bukanlah realitas. Imaji hanyalah bayang-bayang (shadows) dan gambar (eikon) realitas. Dengan demikian, imaji dapat memberikan efek dahsyat bagi yang tidak memahami nilai dan signifikansi imaji tersebut. (Kompas, 20/ 01/09).
Semua yang ditampilkan parpal merupakan bagian dari politik pencitraan yang seolah memberikan segudang harapan dan perubahan menuju Indonesia baru. Namun, harapan dan perubahan itu hanyalah utopia belaka yang bersifat imajinatif dan artifisial. Membangun citra itu penting, tapi lebih penting lagi kalau citra itu tidak terbatas pada tampilan semu dan parsial, sehingga bisa mengecoh orang sekitarnya.

Mengenal Latar Belakang
Kita tidak hanya berhenti pada imaji-imaji kosong yang berbentuk simpati lewat untaian kata maupun tampilan foto capres dan cawapres semata, tetapi kita harus menerobos imaji-imaji itu dalam realitas yang sebenarnya, yakni dengan mengenal latar belakang kehidupannya. Dalam mengenal latar belakang capres-cawapres, terlebih dahulu kita harus mengenal diri kita sendiri. Kenalilah dirimu sendiri. Begitulah maksim Orakel Delphi dasar pencarian kebijakan Socrates, bapak semua pencari kebijakan dalam kebijakan (Platon, Alkibiades, 130 E).
Bila capres dan cawapres yang kita pilih hanya menebar senyum dan janji-janji politik semu, maka kita harus mempertanyakan realitas kebenaran yang diusungnya. Dengan begitu, kita tidak akan tertipu oleh iklan, slogan, maupun foto-foto simpatik dari para calon pemimpin tersebut. Maka, politik pencitraan bukan semata-mata membangun citra dan reputasi, melainkan sudah bermuatan politis yang tidak sehat, bahkan bisa menjerumuskan masyarakat pada pilihan yang salah.
Sebagai pemilih pemula, kita harus berhati-hati dengan ajakan maupun rayuan para tim sukses capres dan cawapres, yang sengaja menggiring kita pada pilihan utopis. Ingatlah bahwa satu suara sangat menentukan terhadap masa depan rakyat menuju Indonesia baru. Jika kita tidak hati-hati, maka nasib masyarakat kita menjadi taruhan.

Mohammad Takdir Ilahi, Mahasiswa Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Staf Riset The Mukti Ali Institute Yogyakarta.
Alamat: Gg. Ori 02. No. 6-F Papringan Depok Sleman Yogyakarta.
Emael. mohammad.takdir@yahoo.com
No.Hp 08179445575.

Admin Says :
Sobat Ketikers,
Bila anda menulis artikel, jangan lupa memasang Featured Image agar dapat ditampilkan Thumbnail atas artikel anda. Ikuti panduan atau klik disini
Terima kasih atas perhatiannya.





The following two tabs change content below.

mohammadTakdir

Latest posts by mohammadTakdir (see all)

2 comments

  1. yah begitulah pilitik.. segala macam intrik… :cool

  2. yah begitulah politik.. segala macam intrik… :cool

Leave a Reply