Pengusaha Kecil Desak BPOM Laporkan Penyebar Hoax Galon untuk Digunakan Kembali ke Aparatur

[ad_1]

KetikKetik – Asosiasi Pengawas dan Perlindungan Pengusaha Depot Air Minum (Asdamindo) – yang menaungi ribuan pengusaha air minum isi ulang – meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menindak tegas orang-orang yang menyebarkan berita bohong soal galon. penggunaan kembali.

BPOM harus berani melaporkan ke pihak berwajib karena telah meresahkan masyarakat dan pengusaha kecil air minum isi ulang yang sudah bertahun-tahun menggunakan galon polikarbonat (PC).

Demikian disampaikan Ketua Asdamindo Erik Garnadi menanggapi jumpa pers yang digelar Lembaga Swadaya Masyarakat Perlindungan Anak dan pihak yang menamakan dirinya Perhimpunan Jurnalis Kesehatan dan Lingkungan (JPKL) baru-baru ini yang menyerukan penolakan. penggunaan galon daur ulang berbahan polikarbonat karena mengandung Bisphenol A. (BPA) karena dianggap berbahaya bagi kesehatan bayi, balita, dan janin pada ibu hamil.

“Jangan sampai masyarakat menjadi korban karena isu hoax tersebut. Jadi, BPOM harus melaporkannya ke pihak yang berwajib. Karena ada kewenangan khusus dari BPOM untuk melaporkannya,” kata Erik. “Pengusaha air minum isi ulang selalu menggunakan galon reusable berbahan polycarbonate dan tidak pernah ada kendala,” tambah Erik.

Menurut Erik, jika tidak dilaporkan, masyarakat bisa menyalahkan BPOM karena tidak tegas dalam mengawasi keamanan pangan.

See also  Di Pengadilan Tipikor, Pengusaha Ini Ungkap Terima Uang dan Mobil Pajero dari Rohadi

“Masyarakat bisa berasumsi bahwa isu hoax itu benar dan bahan BPA dalam galon reusable benar-benar bermasalah. Dalam hal ini, BPOM yang harus disalahkan. Jadi mereka harus segera mengklarifikasi masalah ini. Kalau perlu lapor,” ujarnya.

“Jangan sampai kita dirugikan juga. Masyarakat kita yang mengkonsumsi air minum isi ulang dirugikan dengan pemberitaan hoax seperti ini,” imbuhnya.

Dia mengatakan galon yang dapat digunakan kembali yang terbuat dari polikarbonat telah digunakan selama beberapa dekade dan tidak ada laporan tentang bahaya apa pun. BPOM juga telah melakukan uji klinis terhadap galon dan telah lulus uji.

“Tapi kenapa sekarang tiba-tiba galon berbahan BPA ini dipertanyakan. Seperti ada persaingan bisnis di dalamnya. Dari sudut pandang saya,” katanya.

Ia menegaskan, yang harus diperhatikan oleh para reusable hoaxer adalah kualitas air minum isi ulang di depot yang tidak memiliki legalitas atau layak minum. Sebab, menurut dia, data Kementerian Kesehatan menunjukkan hanya 10% depot air minum isi ulang di Indonesia yang memiliki legalitas. “Ini masalah yang jauh lebih penting daripada galon reusable yang sebenarnya sudah ada uji klinis dari BPOM,” ujarnya.

See also  Erick Thohir Diminta Batalkan Rencana Pungutan Biaya di ATM Link

Apalagi, kata Erik, penyebar isu hoax galon reusable sama sekali tidak mengetahui uji klinis pangan. “Mengapa orang yang tidak memiliki pengetahuan memberikan (objek) ini pernyataan berbahaya (objek) berbahaya. Ini harus melalui uji klinis,” katanya.

Sebelumnya, dalam rilis bersama, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) dan Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (ASPADIN), juga mendukung tindakan tegas pemerintah untuk melindungi industri makanan dan minuman dari serangan informasi menyesatkan tentang galon yang dapat digunakan kembali. .

Baca juga:
Viral Ivermectin Jadi Obat Covid-19, BPOM Ingatkan Bahaya Efek Samping Obat Keras

Menurut mereka, sumber berita atau informasi ini berasal dari pihak yang rekam jejak dan kompetensinya tidak diketahui untuk membicarakan aspek keamanan pangan olahan di Indonesia.

“Kami mendukung tindakan tegas pemerintah agar hoax ini tidak menimbulkan keresahan masyarakat dan merusak iklim usaha yang sehat. Dengan demikian industri makanan dan minuman pada umumnya dan industri air minum dalam kemasan pada khususnya dapat bangkit dari krisis akibat pandemi Covid-19 saat ini, tumbuh sehat, dan terus berkontribusi bagi pembangunan ekonomi Indonesia yang kita cintai bersama,” ujar pimpinan Gapmmi dan Aspadin dalam pelepasan bersama. .

See also  Daftar Lengkap Kode Bank di Indonesia

Sebelumnya diberitakan, JPKL dan Komnas Perlindungan Anak baru-baru ini menggelar konferensi pers untuk meminta masyarakat menolak keberadaan galon berbahan BPA yang dapat digunakan kembali. Dalam konferensi pers tersebut juga disebutkan bahwa galon ini dapat membahayakan kesehatan bayi, balita dan janin pada ibu hamil.

Seperti diketahui, JPKL sering menggunakan pernyataan dari pihak-pihak tertentu, antara lain anggota DPR, dokter, lembaga laboratorium independen, KPAI, bahkan Ikatan Dokter NU, dan saat ini Komnas Perlindungan Anak sedang mempengaruhi masyarakat untuk berhenti. menggunakan galon yang dapat digunakan kembali ini. . Namun, semua informan merasa bahwa pernyataan mereka telah diputarbalikkan dan tidak sesuai dengan apa yang mereka sampaikan.

Merasa terkekang dengan tindakan mereka, BPOM telah mengklarifikasi melalui rilis yang dipublikasikan di situs resminya. BPOM menjelaskan, berdasarkan hasil pengawasan BPOM terhadap air minum dalam kemasan berbahan polikarbonat (PC) selama lima tahun terakhir, menunjukkan bahwa migrasi BPA pada galon yang digunakan kembali berada di bawah 0,01 bpj (10 mikrogram/kg) atau masih dalam batas aman.



[ad_2]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *