Pengusaha Truk Pemberantasan Preman: Sekali Juga

[ad_1]

Jakarta, KetikKetik —

Pengusaha truk membuka suara tentang operasi penangkapan penjahat dan pungutan liar besar-besaran yang dilakukan oleh polisi setelah diperintahkan oleh Presiden Jokowi. Ketua Umum Keamanan dan Keselamatan Indonesia (Kamselindo) sekaligus pengusaha truk dan logistik Kyatmaja Lookman mengatakan, hal itu sudah dilakukan pihak berwenang.

Sayangnya, karena kurangnya konsistensi dan sistem yang mampu membasmi masalah dari akar rumput, preman dan pemeras kembali muncul.

“Dulu juga dilakukan Pemerasan Saber (Satgas Penyapuan Iuran Ilegal) juga dilakukan. Presiden juga mengatakan hal yang sama. Jadi ini sebenarnya deja vu. Itu terjadi lagi dan lagi,” jelasnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/6).

Polisi gencar menangkap preman dan pelaku pungutan liar belakangan ini. Tercatat lebih dari 100 orang telah ditangkap polisi di berbagai wilayah Indonesia dalam operasi tersebut.

See also  Kasus Antigen Bekas, Erick Pecat Seluruh Direksi Kimia Farma Diagnostika - KetikKetik

Operasi itu dilakukan setelah Jokowi mendengar keluhan sejumlah sopir truk di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara terkait aksi preman tersebut. Usai mendengar aduan tersebut, Jokowi memerintahkan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk segera menindaklanjuti aduan pengemudi tersebut.

Hal itu langsung ditanggapi petugas dari Polda Metro Jaya. Sedikitnya 49 orang ditangkap, termasuk koordinator pungli di kawasan JICT, Ahmad Zainul Arifin, Jumat (11/6).

Kyatmaja mengatakan praktik pungli sudah menjadi rahasia umum, terjadi hampir setiap hari dan pengusaha dibuat tidak berdaya. Ia mengatakan, pemerasan terjadi baik di luar maupun di dalam pelabuhan.

[Gambas:Video CNN]

Tidak hanya di Tanjung Priok, kata dia, praktik itu juga terjadi merata di pelabuhan lain.

See also  Perusahaan Digital dengan Banyak Celah Pajak, Sri Mulyani Ungkap Taktiknya

Pemerasan di pelabuhan, kata dia, biasanya kerugiannya tidak terlalu besar, hanya Rp. 5.000-Rp. 10.000 per truk. Menurutnya, yang mengkhawatirkan adalah pungli di luar pelabuhan.

Ia mengatakan, aksi tersebut dilakukan saat terjadi kemacetan. Saat kendaraan dihentikan, para preman melecehkan dan merampok barang-barang pribadi sopir truk.

Ponsel dan dompet adalah barang yang paling sering dicuri oleh preman.

Ketika presiden menjadi sorotan dan pemolisian dilakukan oleh polisi, premanisme biasanya turun. Namun, dia yakin masalah itu tidak akan selesai hanya dengan penahanan sementara.

Sebab, sebelumnya, operasi penangkapan juga dilakukan oleh pihak kepolisian. Sayangnya, karena kurangnya konsistensi dan tidak adanya sistem yang mampu membasmi masalah dari akar rumput, aksi pemerasan dan premanisme kembali muncul.

See also  PLN Bali: 380 kali gangguan listrik karena layang-layang

Bahkan, kata dia, aksi tersebut tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa. Ia mengatakan, pelaku juga berasal dari kelompok anak-anak dan remaja.

Dia percaya bahwa pemerasan adalah kejahatan terorganisir. Pasalnya, pelaku cukup lihai dalam melakukan aksinya.

Ia mengaku melihat para remaja pelaku membongkar aki dan ban penyerap truk.

Menangkap pelaku pungli, kata dia, tidak akan berhasil selama pemerintah tidak menangani masalah sosial atau kemiskinan. Jika tidak ada pembinaan untuk mengarahkan preman pungli untuk mencari pekerjaan lain, dia pesimis masalah akan selesai.

Ujung-ujungnya, kata dia, justru pengusaha yang menjadi sapi perah.

(wel/agustus)




[ad_2]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *