21.4 C
Indonesia
Tuesday, August 9, 2022
spot_img

Penjualan Mobil Indonesia Tertinggi di Asean, Tapi Tingkat Motorisasi Masih Rendah


Harianjogja.com, JAKARTA—Meski volume penjualan mobil di Indonesia tertinggi di Asean, namun tingkat motorisasinya masih rendah dibandingkan negara lain, terutama Malaysia dan Thailand. Sehingga potensi pertumbuhan ke depan masih sangat besar. Ini belum termasuk potensi pasar yang juga tidak merata.

Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef, Andry Satrio Nugroho, mengatakan hal ini bisa dilihat dari kepadatan mobil di masing-masing negara. Andry menjelaskan, pasar kendaraan di Indonesia cukup besar. Namun, konsumen dan pasar kendaraan roda empat tidak merata.

Artinya, wilayah Jabodetabek dan Jawa merupakan pasar yang cukup besar bagi industri otomotif Indonesia jika dibandingkan dengan di luar Jawa, jelasnya kepada Bisnis, Selasa (2/8/2022).

Berdasarkan data OICA, tingkat motorisasi atau rasio per unit mobil terhadap 1.000 penduduk, Indonesia masih jauh tertinggal dari Malaysia dan Thailand. Sampai tahun 2015, tingkat motorisasi Indonesia sekitar 87 per 1.000 orang, Malaysia 439 orang dan Thailand 228 orang.

BACA JUGA: Mobil Sejuta Orang Masih Bisa Pakai Pertalite

Sementara berdasarkan data Asean Automotive Federation, sepanjang semester I 2022 penjualan kendaraan roda empat di Tanah Air sebanyak 475.321 unit. Angka ini sedikit lebih tinggi dari Thailand, yaitu 457.622 kendaraan.

Penjualan kendaraan roda empat tertinggi berikutnya adalah di Malaysia yang terjual 331.386 unit. Kemudian Vietnam (201.840 unit), Filipina (154.874 unit), Singapura (21.965 unit), dan Myanmar (5.848 unit).

Di saat yang sama, Andry melihat industri otomotif masih memiliki berbagai tantangan. Yang utama adalah kelangkaan semikonduktor. Hal ini juga dialami oleh negara lain, termasuk di Asean.

BACA JUGA: EHang 216 Test Flight di PEVS 2022, Dianggap Sejarah bagi Indonesia

Kemudian, nilai tukar rupiah melemah. Sebenarnya, tambah Andry, ini bisa menjadi peluang untuk meningkatkan ekspor meski bisa saja ada penyesuaian barang impor untuk produksi mobil.

“Jadi, saya kira ke depan beberapa hal tersebut perlu kita antisipasi. Ini menjadi tantangan selain kelangkaan microchip yang kita hadapi saat ini,” ujarnya.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansLike
3,429FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles