21.4 C
Indonesia
Tuesday, August 9, 2022
spot_img

Istri Sambo berteriak minta tolong dari Bharada E


Jakarta, IDN Times – Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengungkapkan pihaknya memperoleh beberapa fakta dari Bharada E, saat dimintai keterangan terkait kasus Brigadir J.

Taufan membeberkan masalah krusial di tempat kejadian perkara (TKP) kematian Brigjen J. Pihaknya hanya mendapat informasi dari Bharada E yang mendengarkan jeritan istri mantan Kepala Divisi Propami, Irjen Ferdy Sambo, FC , meminta bantuan saat memanggil namanya dan ajudan lainnya, Bripka Riki.

“Tolong Richard, tolong Riki, karena ada Riki lain, lalu Richard turun dan bertemu Joshua,” katanya dalam diskusi online, Jumat (5/8/2022).

Meski, kata Taufan, ada beberapa fakta yang disebutkan polisi sebelumnya, yang tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan Komnas HAM. Antara lain soal todongan senjata dan tes PCR Ferdy Sambo.

Baca Juga: Komnas HAM Ungkap 3 Fakta yang Tidak Sesuai Penyelidikan Polisi

1. Tidak ada informasi bahwa Brigadir J menodongkan pistol

Komnas HAM: Istri Ferdy Sambo berteriak minta tolong pada Bharada EFoto keluarga di rumah duka Brigjen J. (IDN Times/Rangga Erfizal)

Dengan itu, kata Taufan, belum ada penjelasan bahwa selama ini ada penjelasan terkait Brigadir J yang menodongkan pistol ke istri Ferdy Sambo.

“Jadi ada informasi bahwa selama ini ada informasi Joshua menodongkan pistol, dalam pernyataan mereka tidak ada kejadian seperti itu, itu sebabnya banyak hal yang tidak sesuai antara informasi yang disajikan di awal dan apa yang kami sampaikan. sudah diselidiki,” katanya.

2. Informasi tentang Ferdy Sambo PCR juga berbeda jika ditelusuri

Komnas HAM: Istri Ferdy Sambo berteriak minta tolong pada Bharada ERumah dinas Kabag Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo di Perumahan Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan, Selasa (12/7/2022). (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

Termasuk juga, kata Taufan, pernyataan PCR Ferdy Sambo yang tidak benar dilakukan di luar. Padahal, kata dia, hasil pemeriksaan Komnas HAM menunjukkan Ferdy sudah pulang lebih dulu dari istri dan rombongan dari Magelang.

“Tentu kami tidak ingin menuduh sembarangan, tapi kami curiga ada yang tidak logis,” katanya.

Baca Juga: Komnas HAM Buka Peluang Periksa 25 Polisi dalam Kasus Brigjen J

3. Pelecehan seksual tidak bisa dipercaya sepenuhnya

Komnas HAM: Istri Ferdy Sambo berteriak minta tolong pada Bharada ECCTV di sekitar rumah dinas Irjen Pol Ferdy Sambo, Perumahan Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan. (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Karena itu, kata Taufan, tidak ada saksi mata yang menyaksikan peristiwa penembakan tersebut. Tak hanya itu, tuduhan pelecehan seksual tidak bisa dipercaya sepenuhnya meski Komnas HAM masih berperspektif korban.

“Jadi tidak ada saksi yang menyaksikan perampokan itu, makanya kami juga belum bisa memastikan apakah terjadi pelecehan seksual atau tidak. Padahal kami katakan dalam standar HAM internasional yang juga diatur dalam UU TPKS kami, seseorang yang dicurigai atau dia mengaku atau sudah mengadu, bahkan sebagai korban pelecehan seksual sekalipun kita tidak bisa mengatakan apakah itu benar atau tidak, dia tetap harus diperlakukan sebagai korban,” katanya.



Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansLike
3,429FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles