Tetanggaku, beda dengan tetangga lainnya. Hidupnya kian hari kian meningkat saja kere-nya, makin komplit kemiskinannya dan heboh penderitaannya. Apakah yang salah dengan tetanggaku ini? Usaha cukup, kerja lumayan, pengeluaran ekonomis, pantang berhura-hura.
Ah, ada yang gak konek secara matematika nih orang. Rupanya ia kurang hati-hati dalam berdoa, doanya ceplas-ceplos, mosok bunyi doanya: “Terserah Engkau saja Tuhan”. Ini doa apa marah? Ini doa versi hamba yang ngambek. Merasa ‘dizholimi’ Tuhan. Belum lagi dengan isi doanya begini: “Sebetulnya, Tuhan sudah tahu isi hatiku”. Ini mah manusia sok tahu, darimana dia tahu kalau Tuhan sudah tahu isi hatinya? Teknik dan metodologi apa yang dia gunakan? Ini pasti doktrin-doktrin yang ia sering didengarnya. Maksudnya, isi hatimu yang mana? Ya mbok dibilang dong, jangan paksa Tuhan bekerja keras untuk memilihkanmu apa yang engkau mau. Yah Anda sendiri dong yang tentukan, menu hidup bagaimana yang Anda maui.
Yang benar adalah Tuhan Maha Tahu, doa yang tulus dan doa yang gak tulus. Terlebih Tuhan Tahu mana yang tepat untuk dikabulkan dan yang mana yang tidak pas. Maka rajin-rajinlah berdoa kepada Tuhan, soal terkabul atau tidak, itu marka-marka Tuhan-lah. Langit hanya bisa ditembus oleh lantunan do’a. Itu wejangan para uztad, pendeta, pastur.
Ya mbok doa itu pun punya prosedur, punya sosial-budaya dan etika. Jangan kira doa itu bukan usaha! Apa doa itu tak butuh tenaga? Tak butuh fokus? Tak buruh tilawah? Doa itu, butuh skill, harus punya teknik advokasi yang taktis kepada Tuhan. Doa itu kan bujukan, rayuan, permintaan halus. Bukan mekso-mekso atau bicara tak karuan.
Minta sesuatu ke Pak Lurah, tapi kok gak jelas ngomongnya, main ancam-ancam pula. Pemegang kuasa sebetulnya siapa? Lurah aja yang di bumi gak mau digituin, apalagi yang Di Atas Sana^^^