Gaya  

Itu Salah Mama

www.picstopin.com
www.picstopin.com

SEJAK bersayap dan landing di blog KetikKetik ini, tersembur jua ide-ide untuk disulap menjadi artikel. Energi menulis wajib dicarikan irigasi. Dan, esaiku kali ini mengangkat soal-soal ringan yang mengailkan antara perihidup kerumahtanggaan. Rumahtangga adalah ‘negara kecil’, di dalamnya kelewat banyak aksi-aksi teatrikal -sedih, bahagia, suka dan duka- yang tersuguh dalam tiap-tiap momen dan tiap-tiap rasa-rasio. Terungkap lagi peristiwa-peristiwa ringan namun fatal jika terbiarkan begitu saja.

Tokoh kali ini adalah Si Maman dan istrinya beserta anak-anaknya. Putranya yang berusia 9 (sembilan) tahun itu, gemar mem-bully adik kandungnya. Ia jengkel kepada adiknya tanpa alasan. Pokoknya gak senang. Unik juga kok orang bersaudara gak senang-senangan sama saudaranya sendiri. Benar saja ungkapan kampung: “Saudara selagi dekat beraroma tinja, selagi jauh beraroma bunga nan wangi”. Maman selaku pemimpin rumah tangga tak menerima seluruhnya kalimat ini. Maman tak kenal jauh-dekat: “Pokoknya lagi, yang namanya bersaudara, dekat atau berjauhan harus tetap wangi”, tukasnya.

Baca juga :  Haru Biru Teman Baru

Lalu, Maman menyelami istrinya, geram kecil dan berkatalah ia: “Mama yang salah. Mama gagal mendidik anak-anak di rumah. Papa khan banyak di luar, dan itu tanggungjawab mama sebagai ibunya anak-anak di rumah”. Itu ketegasan dan pemvonisan Maman kepada istrinya.

Sepertinya Maman lupa, bahwa pemimpin rumah tangga adalah Kepala Negara Kecil, ia adalah pemimpin menyeluruh, pemimpin anak-anaknya, pulalah istrinya. Tiadakah lebih bijak jika Maman berujar: “Ini salah papa ma”. Insya Allah, ucapan ini akan memantul, beresonansi kepada istrinya. Ibu anak-anaknya itu pun dengan suara lembut akan berkata: “Bukan salah papa. Maafkan mama pa. Ini salah mama”.

Baca juga :  Keseimbangan Pada Titian

Dua bentuk perkataan, dua kalimat yang berbeda. tetapi kalimat terakhir menunjukkan bahwa Maman sudah sampai pesannya ke istrinya, dan istrinya tak tersudutkan^^^

Respon (4)

  1. kenapa selalu mama yang disalahkan? bukankah dia anak papa mama berdua…http://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif
    nice post mas Armand…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *