
SEJAK bersayap dan landing di blog KetikKetik ini, tersembur jua ide-ide untuk disulap menjadi artikel. Energi menulis wajib dicarikan irigasi. Dan, esaiku kali ini mengangkat soal-soal ringan yang mengailkan antara perihidup kerumahtanggaan. Rumahtangga adalah ‘negara kecil’, di dalamnya kelewat banyak aksi-aksi teatrikal -sedih, bahagia, suka dan duka- yang tersuguh dalam tiap-tiap momen dan tiap-tiap rasa-rasio. Terungkap lagi peristiwa-peristiwa ringan namun fatal jika terbiarkan begitu saja.
Tokoh kali ini adalah Si Maman dan istrinya beserta anak-anaknya. Putranya yang berusia 9 (sembilan) tahun itu, gemar mem-bully adik kandungnya. Ia jengkel kepada adiknya tanpa alasan. Pokoknya gak senang. Unik juga kok orang bersaudara gak senang-senangan sama saudaranya sendiri. Benar saja ungkapan kampung: “Saudara selagi dekat beraroma tinja, selagi jauh beraroma bunga nan wangi”. Maman selaku pemimpin rumah tangga tak menerima seluruhnya kalimat ini. Maman tak kenal jauh-dekat: “Pokoknya lagi, yang namanya bersaudara, dekat atau berjauhan harus tetap wangi”, tukasnya.
Lalu, Maman menyelami istrinya, geram kecil dan berkatalah ia: “Mama yang salah. Mama gagal mendidik anak-anak di rumah. Papa khan banyak di luar, dan itu tanggungjawab mama sebagai ibunya anak-anak di rumah”. Itu ketegasan dan pemvonisan Maman kepada istrinya.
Sepertinya Maman lupa, bahwa pemimpin rumah tangga adalah Kepala Negara Kecil, ia adalah pemimpin menyeluruh, pemimpin anak-anaknya, pulalah istrinya. Tiadakah lebih bijak jika Maman berujar: “Ini salah papa ma”. Insya Allah, ucapan ini akan memantul, beresonansi kepada istrinya. Ibu anak-anaknya itu pun dengan suara lembut akan berkata: “Bukan salah papa. Maafkan mama pa. Ini salah mama”.
Dua bentuk perkataan, dua kalimat yang berbeda. tetapi kalimat terakhir menunjukkan bahwa Maman sudah sampai pesannya ke istrinya, dan istrinya tak tersudutkan^^^
tulisan yang bagus 🙂
nice post
Harusnya saling mengisi.. saling melengkapi anak kan tanggung jawab pasutri….
kenapa selalu mama yang disalahkan? bukankah dia anak papa mama berdua…
nice post mas Armand…