Gaya  

Kenapa Malu?

Kadang kita ini lucu, melakukan hal yang tidak pantas tidak malu. Tapi melakukan hal yang pantas malah merasa malu. Berbuat salah tidak merasa malu, sebaliknya berbuat yang tidak salah justru merasa malu. Bagaimana ini?

Sebagai contoh kejadian yang baru-baru terjadi dan menjadi catatan saya dan jadi bahan pemikiran untuk selanjutnya jadi ide tulisan.

 Sore itu saya memberi pisang ambon jatah teman makan malam saya ke seorang karyawan ketika menghampiri karena ada keperluan. Kebetulan ia kebagian lembur sampai malam.

“Ini pisang buat teman makan malam nanti ya,” lalu diterima sambil mengucapkan terima kasih, “Loh, emang Bapak gak makan pisang?”

 “Makan sih, tapi tadi siang udah, yang sore buat kamu aja. Kebetulan saya lagi baik aja mau kasih kamu…”

Tapi tak lama ia bermaksud mengembalikan sambil berkata,”Saya malu, Pak, bawa-bawa pisang ke dalam (pabrik).”

“Loh, kok malu? Emang bawa-bawa pisang salah atau gak boleh ya? Kenapa kalau gak salah mesti malu sih?”

“Iya sih, gak salah! Ya, udah terima kasih, Pak,” akhirnya ia menurut.

Kenapa kalau apa yang kita lakukan tidak salah baik menurut aturan hukum, agama atau etika kita malu melakukannya? Gengsi? Barangkali!

Apa memang ada benarnya ini jaman sudah terbalik, sehingga sikap kita juga terbalik? Tidak malu melakukan hal yang memalukan, tapi malu-malu melakukan hal yang tidak memalukan.

 Jadi ingat diri sendiri sewaktu dulu. Mau menolong nenek-nenek menyeberang saja ada perasaan malu, sehingga banyak perhitungan sampai keduluan orang lain. Mau menyumbang buat bencana alam saja lagi-lagi malu, karena yang mau disumbang tak seberapa.

 Padahal sudah tahu yang penting itu ikhlas bukan seberapa besar nilai yang mau disumbang. Tapi malunya tetap lebih besar, akhirnya malah batal berbuat baik gara-gara malu itu!

Respon (3)

  1. 😀 manusiaaa oh manusiaaa..kalo malu pisangnya langsung makan aja, buang kulitnya ke tmpat sampah…beresss…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *