lelaki itu termangu
terkurung di bawah harapan
bertumpu pada mimpi
yang ia lukis sendiri
sesekali ia menyapa dinding kamar
demi menguras rasa gamang
yang menyesak di dalam batin
bersama tatap mata yang kosong
menembus gelapnya mendung
yang menyelimuti hati
ia bertanya pada ilalang
kemana perginya angin
yang biasa berdesir lembut
teduhkan jiwa nan rapuh
wajahnya yang lusuh
seraya menengadah
pandangi langit yang bisu
merengkuh asa perlahan musnah
masihkah ada waktu
yang menoleh kepadanya
tumbuhkan tunas
di tangkai yang kering
potret bersama kekasih
berada di dalam pelukan
dan tak sedikitpun
sempat ia lepaskan
ilusi bertebaran di lantai kenangan
bercumbu dengan manisnya kata cinta
bermandi cahaya gemerlapan
tentang indahnya masa depan
setangkup do’a tersimpan di dada
andaikan bisa memutar kembali
detik masa yang t’lah jauh berlari
ia ingin terbang menjemputnya
terselip kata di antara lidah kelu
yang tak kunjung tiba saat bicara
ingin ia katakan dengan lugas
bahwa cinta itu masih ada
jauh di relung hatinya
tersimpan sekeping prasasti
bertuliskan sebuah nama
yang ingin ia dampingi
sampai ia mati..
Doni Bastian
Jakarta 17/04
Ramadhan 2021
Wwwooowww… rasanya lamaaaaa banget gak baca tulisan sang maestro ini….
Selalu mengiris hati…..👍🏻👍🏻👍🏻
Terimakasih mbak Ayu.. :0
Keyeeeennn ….
Thanks bro..