Ibu Kota Nusantara (IKN) yang sedang dibangun di Kalimantan Timur menjadi sorotan banyak pihak, termasuk para indigo dan paranormal yang mencoba meramalkan masa depannya. Beberapa di antara mereka mengklaim memiliki visi tentang bagaimana IKN akan berkembang dalam beberapa dekade mendatang. Ada yang melihat kota ini menjadi pusat peradaban modern dengan teknologi canggih dan keberlanjutan lingkungan, sementara yang lain memperingatkan tantangan besar yang mungkin dihadapi, seperti bencana alam atau hambatan geopolitik. Terlepas dari perbedaan prediksi, ramalan-ramalan ini menarik perhatian masyarakat yang penasaran dengan nasib ibu kota baru Indonesia.
Ramalan Masa Depan IKN
Beberapa individu dengan kemampuan indigo telah memberikan pandangan mereka mengenai masa depan Indonesia setelah pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur. Salah satunya adalah Tigor Otadan, seorang indigo asal Kediri, Jawa Timur. Dalam terawangannya, Tigor melihat bahwa Indonesia akan mencapai masa kejayaan pada tahun 2032. Ia juga menyatakan bahwa pemindahan ibu kota ke Kalimantan adalah langkah yang tepat dan banyak orang akan meraih kesuksesan dengan bekerja di sana.
Pendapat Para Ahli Tata Kota
Para ahli tata kota memiliki beragam pandangan mengenai masa depan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur. Beberapa di antaranya menyoroti pentingnya perencanaan yang realistis dan pembelajaran dari pengalaman pembangunan kota baru sebelumnya.
Dr. Nirwono Joga, ahli tata kota dari Universitas Trisakti, menekankan bahwa pembangunan IKN sebaiknya mengambil pelajaran dari contoh kota baru seperti Batam dan BSD City. Beliau menyarankan agar pemerintah lebih realistis dalam mendetailkan rencana tata ruang IKN Nusantara.
Sementara itu, Dr. Kei Otsuki, Associate Professor dari Utrecht University, mengingatkan bahwa meskipun rencana tata kota IKN telah dirancang dengan batasan teritorial yang jelas, pertimbangan geografis masih kurang diperhatikan. Beliau menekankan pentingnya perencanaan yang mempertimbangkan probabilitas masa depan untuk memastikan keberlanjutan kota.
Selain itu, Dr. Jehansyah Siregar, ahli tata kota dan permukiman dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menyatakan bahwa pembangunan sebuah kota tidak akan pernah selesai sepenuhnya. Beliau menyoroti bahwa proses pembangunan kota adalah upaya berkelanjutan yang memerlukan adaptasi dan penyesuaian seiring waktu.
Di sisi lain, beberapa pakar menilai bahwa konsep tata kota IKN telah memenuhi prinsip ideal. Pembangunan IKN memiliki konsep besar yaitu “smart forest city”, di mana kota akan dikelilingi oleh hutan yang hijau dan dilengkapi dengan teknologi modern. Konsep ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang sehat, efisien, dan produktif serta ramah bagi pejalan kaki.
Secara keseluruhan, para ahli menekankan pentingnya perencanaan yang matang, pembelajaran dari pengalaman sebelumnya, dan adaptasi berkelanjutan untuk memastikan bahwa IKN Nusantara dapat berkembang sebagai ibu kota yang berkelanjutan dan memenuhi kebutuhan masa depan Indonesia.
Ramalan menurut Paranormal
Beberapa paranormal telah memberikan pandangan mereka terkait masa depan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur. Salah satunya adalah Mbah Mijan, yang menyatakan bahwa pembangunan IKN telah mendapatkan restu dari makhluk gaib. Ia juga memprediksi bahwa pemindahan ibu kota ini akan memberikan dampak positif dalam jangka panjang, meskipun manfaatnya mungkin baru terasa dalam 10 hingga 20 tahun ke depan.
Ramalan Menurut Ahli Kartu Tarot
Bunda Sekar Ayunda, seorang ahli membaca kartu Tarot, menyampaikan ramalannya tentang masa depan IKN, ibarat ‘Cecak Nguntal Cagak’ (bahasa Jawa) artinya ‘Cicak makan tiang’, maksudnya jika belum mampu, jangan buru-buru dilakukan.
Ramalan Masa Depan IKn Menurut Chat GPT
Menurut Chat GPT, Secara objektif, masa depan Ibu Kota Nusantara (IKN) akan sangat bergantung pada beberapa faktor utama:
-
Komitmen Politik – Jika pemerintahan mendatang tetap berkomitmen, proyek ini bisa berjalan sesuai rencana. Namun, jika ada perubahan kebijakan atau kepemimpinan yang tidak mendukung, proyek ini bisa melambat atau bahkan mangkrak sebagian.
-
Pendanaan dan Investasi – Saat ini, IKN sangat bergantung pada investasi swasta. Jika investor tertarik dan melihat prospek ekonomi yang menjanjikan, proyek ini bisa sukses. Sebaliknya, jika minat investor rendah, pembangunan bisa tersendat.
-
Kesiapan Infrastruktur – Pembangunan kota dari nol memerlukan waktu lama. Jika infrastruktur dasar seperti jalan, air, listrik, dan telekomunikasi tidak cepat tersedia, minat masyarakat dan bisnis untuk pindah ke IKN bisa rendah.
-
Daya Tarik bagi Penduduk – Sebuah ibu kota harus memiliki fasilitas dan ekonomi yang menarik agar orang mau pindah. Jika kehidupan di sana kurang nyaman atau lapangan kerja terbatas, kota ini bisa menjadi kota ‘setengah jadi’ tanpa banyak penduduk.
-
Tantangan Lingkungan – Pemindahan ibu kota ke Kalimantan juga harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Jika ekosistem terganggu dan terjadi masalah seperti deforestasi atau krisis air, maka keberlanjutan jangka panjang IKN bisa terancam.
Kalau mau dibawa ke arah “penglihatan masa depan” ala peramal atau indigo, bayangannya bisa jadi seperti ini:
Dalam skenario positif
IKN berkembang pesat sebagai kota modern yang hijau dan berbasis teknologi. Ada banyak gedung futuristik, sistem transportasi canggih, dan ekosistem bisnis baru. Pemerintahan berjalan lancar, dan populasi yang awalnya ragu akhirnya mulai bermigrasi ke sana. Indonesia menjadi contoh sukses dalam pembangunan ibu kota baru, mirip seperti Putrajaya di Malaysia atau Brasília di Brasil.
Dalam skenario negatif
Pembangunan terhambat karena dana tidak cukup, dan IKN berubah menjadi “kota hantu” dengan banyak gedung mangkrak. Investor asing enggan menanam modal karena faktor ekonomi dan politik yang tidak stabil. Pemerintahan pusat tetap memanfaatkan Jakarta untuk sebagian besar aktivitas, sehingga perpindahan ibu kota tidak berjalan sepenuhnya. Pada akhirnya, proyek ini hanya menjadi bagian dari sejarah, seperti beberapa kota baru yang gagal di berbagai negara.
Skenario realistis (campuran)
IKN mungkin tetap berkembang, tapi tidak secepat yang direncanakan. Pemerintah dan bisnis besar mungkin akan tetap beroperasi di sana, tetapi populasi umum masih banyak bertahan di Jakarta karena faktor ekonomi dan sosial. Jakarta tetap menjadi pusat bisnis, sementara IKN lebih berfungsi sebagai pusat administratif, mirip seperti bagaimana banyak negara memiliki dua pusat kekuatan yang berbeda.
Jadi, kalau dibayangkan secara “mistis,” masa depan IKN masih abu-abu—tergantung bagaimana faktor politik, ekonomi, dan sosial berkembang dalam beberapa dekade ke depan.
Kesimpulan
Jika semua faktor di atas berjalan baik, IKN bisa menjadi kota modern dan pusat pemerintahan baru yang sukses. Namun, jika ada hambatan besar—baik dari sisi politik, pendanaan, maupun infrastruktur—maka ada kemungkinan proyek ini akan tersendat atau hanya berkembang sebagian.