Gaya  

Seumpama

SEUMPAMA, itu kalimat tersering digunakan orang-orang. Pengandaian yang kadang mujarab, memanfaatkan dan memudahcernakan lawan bicara. Kumpulan seumpama, telah banyak dijumpai dalam keseharian: romantisme, ataukah perang batin. Seumapama aku lilin, engkau apinya, Seumpama aku senjata, engkau pelurunya, seumpama aku langit, engkau taburan bintangnya. Seumpama aku Romeo, engkau julietnya.

Termata banyak analogi-analogi ini, dipakai dalam segala kejadian, peristiwa, momen dan waktu-waktu tertentu, semua teruangkap dengan maksud menguatkan diri sendiri, mengokohkan relasi-relasi jiwa, kekuatan komitmen, penjagaan ritme interaksi dan kekokohan hubungan antar manusia.

Baca juga :  Ibunya Ibumu

Bekerjalah ‘seumpama’ ini, saling menimpali, saling meyokong, saling mensupport; SATU SAMA LAIN.

Terjadi harmoni, tercipta kooperasi, dan terbangun genggaman tangan saling berjabat-erat, semua demi bangunan kekuatan-kekuatan (kebaikan atau keburukan).

Jangan meragu bahwa keseharian ini tak ada yang bebas dari kerjasama, tak ada independen, semua terikat. Dan seluruhnya didaulat oleh teori aksi-reaksi. Dan sepasang suami-istri, bisa saja diberi perumpamaan, baik-buruknya: Aku ini suami, ibarat Raja Matahari, engkau sebagai istri, laksana bumi, kusinari engkau di setiap hidup dan gerak serta hirupan nafasmu. Romantis sekali. Di sisi lain, banyak suami yang memang bak matahari tetapi justru memanggang istrinya dengan sinar-sinar kerendahan dan enteng-entengkan tanpa harga dari sang bumi itu, yang tak lain istrinya sendiri. Pun banyak bumi alias istri, tak pernah mau anggap suami sebagai matahari yang sesungguhnya. Dan jadilah perumpamaan yang salah sebab Matahari dan Bumi tiada pernah berpeang^^^

Baca juga :  Lara Demokrasi

 

 

Respon (2)

  1. Seumpama saya tak membaca tulisan ini maka saya tak tahu suami itu seumpama matahari dan istri seumpama bumi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *