Gaya  

Cuma Lakukan Satu Hal Baik, Tapi Kesalahan Beruntun Menyusul

Pernahkah kita suatu waktu melakukan satu perbuatan yang baik, tapi ketidak-baikan pun mengiringi? Bingung? Ikuti saja kisah berikut ini, nanti juga akan ketemu masalahnya.

Pagi itu berhubung hari Senin, setengah enam saya sudah berangkat kerja. Biar perjalanan lancar. Ketika sampai di perempatan empat lampu merah masih menyala. Angka digitalnya menunjukkan 30.

Tetapi puluhan motor dengan bernafsunya tancap gas. Blusss. Yang tersisa sabar menunggu cuma dua pengendara. Ya, betul! Salah satunya adalah saya. Itulah baiknya kalau menulis tentang diri sendiri.

Kalau saya nekad menulis bahwa saya termasuk rombongan yang menerobos lampu merah, itu namanya mencemarkan nama sendiri. Kalau begitu saya mesti menuntut ganti rugi ke siapa? Bodoh, kan?

Saya sabar menunggu karena selain memang mau taat berlalu-lintas juga karena menjaga keselamatan. Apabila masih belum waktunya memacu kendaraan tapi saya nekad menerobos lampu merah.

Baca juga :  Satu Permintaan

Bagaimana tiba-tiba ada kendaraan yang melaju kencang dari arah lain? Tentu saya tidak mau celaka atau mati konyol gara-gara tak sabar menahan diri beberapa detik saja. Nah, orang baik kan saya?!

Baiknya satu kali. Tapi gara-gara saya berpikir saya ini orang baik karena sudah taat berlalu-lintas. Kepala saya langsung membesar diisi oleh pikiran yang tidak baik.

Tanpa diundang si sombong langsung tampil duluan dan berkata,”Eh, lihat dong saya, pengendara yang baik. Itu orang-orang tak tahu aturan. Rasain kalau kecelakaan. Biar kena batunya.”

“Ya ampun tuh orang, udah kayak mau kiamat aja sampai buru-buru. Dasar gak tahu aturan. Nanti kalau pas lampu merah nekad menerobos kena tabrak baru tahu rasa!”

Baca juga :  Mengapa Menyimpan Caci-Maki dan Hinaan di Dunia Maya?

Pikiran liar lainnya masih menyusul. Tapi apa ya? Lupa. Ya intinya yang negatiflah dan merasa diri yang paling baik di jalan mentang-mentang tidak ikut menerobos lampu merah.

Apa yang terjadi di atas hanya satu cinta kecil. Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak kisah lainnya.

Misalnya saat kita beramal. Tapi yang lain tidak melakukan. Kita rajin beribadah, melihat teman atau tetangga malas-malasan. Kita berpendidikan dan pintar, teman tidak selevel.

Dalam keadaan demikian ada kecenderungan muncul meremehkan atau penghakiman. Karena kita merasa orang yang paling baik sedunia. Padahal dunia sedang menertawakan kita atas klaim sepihak itu. Orang baik macam apa kita bila demikian? Tepatnya, orang baik macam apa saya ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *