Gaya  

Mimpi Jadi Nyata

foto : uluselsupermartf.info

Ketika ajang Java Jazz dimulai pada 2004 silam, putri saya masih berusia balita. Sehingga walaupun sangat ingin menonton, rasanya mustahil untuk mewujudkannya. Kemudian setiap tahun saya melihat iklannya dan masih bermimpi untuk menyaksikan, namun selalu gagal. Ada saja, banyak teman beralasan tidak menyukai Jazz. Yang lainnya memang malas karena jauh, repot dan segudang alasan lainnya. Kebetulan suami juga kurang menyetujui, karena ia sendiri bukan penggemar musik atau band atau sesuatu acara yang mengharuskan bepergian malam. Saya kecewa, memendam hasrat tapi tidak dapat memaksa. Karena bagi saya, menonton pertunjukan itu bukan sesuatu tentang KEHARUSAN, hanya KEINGINAN.

Kemarin ketika seorang teman mengirim text, “Ayolah Win. Ini ada PROMO tiket buy one get one jadi murah sekali. Kamu kubelikan dulu ya!” Tidak kuasa menolak karena saya sendiri sudah lama ingin menonton, akhirnya dua tiket sudah ditangan teman saya itu. Mulailah hari Minggu menjadi suatu petualangan seru. Dengan kendaraan umum, saya tiba ditempat yang dijanjikan untuk berjumpa teman saya itu. Dijemput olehnya, lalu kami berdua langsung menuju ke lokasi Java Jazz yang jauhnya nggak kira – kira. Ya, PRJ Kemayoran! Benar – benar wilayah Jakarta yang paling jarang saya kunjungi. Namun demi, ‘mimpi jadi nyata’ tibalah kami disana.

Menggunakan trik ‘datang awal – pulang akhir’, kami selamat dari kericuhan repot mencari parkir dan PW. Posisi Wenak untuk menikmati suasana. Datang awal menyebabkan kami dapat parkiran paling depan dan moncong kendaraan dihadapkan ke jalan keluar. Sip! Masuk ke dalam, counter makanan belum banyak yang buka, namun sebagian sudah bersiap – siap. Okay, yang agak merepotkan adalah harus beli e-cash dari BNI. Belum lagi kartu e-cash dihargai Rp. 25.000,-. Yah, namanya pagelaran dengan sejuta sponsor, mungkin hal ini menjadi hak previllege sponsor. Bawa botol air putih ke dalam saja tidak boleh! Makanan yang kami serbu pertama Bebek Kaleyo, rasa bumbu rica dan sambel ijo. Waduh pedesnya, untung ngga mules! Minuman (harus) beli dari sponsor lain, Teh Sosro. Pagelaran ini membuat saya berpikir bahwa perusahaan – perusahaan sponsor ini terlihat sekali ‘tajir’nya. Luar biasa industri di tanah air! Sosro, BNI, Clear, Tebs, Simpati, First Media, Yamaha Music, dll.

Baca juga :  Kejujuran Mudah Diucapkan ,Tapi Sulit Dipraktekkan

Saya percaya, orang harus makan. Ya iyalah! Setelah makan biasanya perasaan dan perilaku dapat lebih terkontrol. Maka dari itu, saya selalu makan dengan teratur. Saya percaya makanan akan membangun dan mensupply tenaga dengan baik ke dalam tubuh. Setelah makan, dimulailah petualangan kami dari sore hingga malam hari itu. Buat saya, amazing! Orang – orang dengan dandanan penuh gaya memenuhi lokasi Java Jazz. Ada yang mengenakan topi pet, topi tinggi, rambut gimbal, tattoo tubuh, sepatu boots, gaun panjang, gaun seksi, batik dst. Yang mana artis, yang mana ngartis semua bercampur jadi satu! Kemudian dalam hiruk – pikuk, kami berkeliling memilih panggung – panggung dengan artis penyanyi yang kami sukai.

Mula – mula mengunjungi Yamaha Project, karena kurang menarik kami menonton ‘The Professor”, dilanjutkan dengan Dian Pramana Putra dan Addie MS Twilite Orc, dilanjut lagi dengan Ruth Sahanya, balik ke Yamaha Concert menonton Tompi sebentar. Mampir di panggung Agnez Mo, lalu lanjut lagi melihat Tania Maria dari Brazil. Yang paling mengesankan adalah dua pertunjukan terakhir, Elfas Bossa Nova dan Kwartet Dave Coz serta kawan – kawan. Natalie Cole merupakan bintang yang mengusai bintang lainnya di Java Jazz tersebut, untuk menonton konsernya setiap orang harus membeli tiket tambahan satu juta rupiah. Itupun banyak sekali yang mengantre untuk beli! Kami, passs – lah! Padahal saya pikir, saya akan pingsan kalau bertemu Natalie Cole, I miss you like crazy,… 

Malam bergulir kian pekat. Session kedua kami mengunjungi gerai makanan lagi. Mengisi perut untuk tambahan tenaga karena sejak sore sudah bergerilya. Teman saya memilih D’ Crepes, sementara saya memilih Bakso Atom yang memang adalah bakso kesayangan. Kali ini kami ditemani oleh sepasang sejoli yang adalah teman – teman kantor dari teman saya itu. Malam yang menyenangkan, sambil bercakap kami menikmati hidangan. Si gadis memamerkan tattoo temporary yang dibuat dilengannya, sangat cantik! Sementara si pemuda karena ngiler dengan bakso yang saya makan, langsung pesan makan episode dua dengan komentar, “baksonya eeeeenaak lho!” Setelah itu kami berpisah menuju panggung tribute to George Duke. Karena kurang menarik, kami menuju panggung Dave Coz dan kawan – kawan. Rancak bana! Menurut saya, atraksi Dave Coz dkk adalah puncak geliat serba Jazzy di hari Minggu malam itu.

Baca juga :  (ORI) Menata Hidup Ketika Badai Menerpa

Paling berkesan secara pribadi, adalah melihat Dian Pramana Putra dan Dedy Dhukun. Saya sekali ketemu Mas Dedy Dhukun di bilangan Jakarta Selatan dan minta berfoto bersama. Dikabulkan dengan sangat baik dan luar biasa bersahaja. Padahal karya musik Dedy Dhukun begitu apik – apik tetapi beliau sangat rendah hati. Menyedihkan, begitu masa berganti kadang orang lupa bahwa pada masa lalu beberapa orang sudah menggoreskan prestasi yang sangat luar biasa. Tentu saja, saya sangat menikmati semua pagelaran musik yang ada. Lagi – lagi mensyukuri nikmat dan keajaibanNya. Bahwa teman saya ‘memaksa’ beli tiket buy one get one free, bahwa mengatakan sekalian reuni – sekalian nonton musik (terakhir kami ketemu tahun 2012), bahwa sesuatu yang ‘tidak direncana manusia’ justru sering menjadi sangat sempurna. Saya memandang logo yang ada didalam area Java Jazz dan ternganga, disitu tertulis ‘The 10th anniversary Java Jazz”. Jadi penyelenggaraan Java Jazz yang ke – 10 barulah saya bisa menyaksikannya? OMG! Terima kasih Tuhan, this is one of my dreams comes true…

Melati Di Atas Bukit

Tiba – tiba kau datang menjelangku seorang
Dari bukit seberang melintas jurang nan curam
Haru, sendu, riang, khayal dan kenyataan
Bagai jatuh bintang di atas pangkuan…

Respon (4)

  1. Wow…amazing, saya blm kesampaian nonton java jazz lho…paling-paling dulu hanya bisa nonton friday nite jazz di Ancol namun bintangnya cukup menarik juga seperti Ermi Kulit, Vony Sumlang, Mus Mujiono, Syahrani, almarhum Embong Raharjo dll, wah nanti bisa diadakan ketiker nonton jazz bareng, Jeng Winda.

    1. Haruss dong Mba Anita..komplet semua temen – temen, :thumbup tmsk Bung Kate yg penggemar dangdut,..kita paksa juga nonton jazz… 😀

  2. Waduh saya pernah ketemu Deddy Dhukun di Roxi, malah menjauh awaktu itu kelihatan seram sih pakai kaca mata hitam dan rambutnya diikat hehhee..ini bukan mimpi kayaknya Ci Jo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *